Senin, 07 Mei 2012

ISU-ISU GLOBAL


ISU-ISU GLOBAL PENDIDIKAN DALAM KONTEKS GENDER DAN MULTUKULTURAL
A. Latar belakang Masalah
              Perkembangan pendidikan nasional yang berakibat pada pendidikan yang berkiblat pada pendidikan Amerika berkembang pesat dan menunjukan hasil yang luar biasa. Namun perlu dicatat bahwa kecepatan perkembangan pendidikan nasional ini cendererung mendorong pendidikan kearah  system pendidikan yang bersifat sentralistik . Birokrasi pusat cenderung menekankan proses pendidikan secara klasikal dan bersifat mekanistik. Dengan demikian proses pendidikan cenderung diperlakukan sebagaimana sebuah pabrik. Hasilnya berkembanglah manusia-manusia yang bermental ‘juklak’ dan ‘juknis’ yang siap diperlakukan secara seragam.
             Kualitas out put pendidikan yang berkiblat ke Amerika mulai dirasakan bahwa praktek pendidikan cenderung munculnya generasi terdidik yang bersifat materialistis , individualis dan konsumtif serta munculnya mentalitas ‘ jalan pintas’, dengan semangat dan kemauan untuk mendapatkan hasil secepat mungkin, baik digenerasi tua ataupun muda. Tekanan kemiskinan menimbulkan obsesi bahwa kekayaan merupakan obat yang harus segera diperoleh dengan biaya apapun juga. Oleh karena itu tujuan kegiatan  adalah ‘kekayaan’, dan yang lainya merupakan instrument variable untuk mencapai kekayaan tersebut. Pendidikan khusus akan di perlakukan sebagai lembaga mencentak ‘tenaga kerja”, bukan lembaga yang menghasilkan “manusia utuh”(The whole Person) oleh karena itu, perlu adanya usaha untuk untuk mengembalikan kesadaran dikalangan khususnya generasi muda akan pendidikan dengan tekanan menciptakan  pentingnya pencapaian tujuan jangka  panjang, memahami makna proses yang harus dilalui dan menyadari pentingnya nilai-nilai yang harus mucul dari diri sendiri. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi Dalam  dan proses pendidikan  dengan tekanan menciptakan system yang lebih komperhensif  dan fleksibel , sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan global demokratis. Untuk itu pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan  potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan  dan tanggung jawab[1].
            Globalisasi adalah kesan yang paling nyata sehingga menuntut perubahan demi perubahan hingga,  keperingkat pendidikan dan sekolahan. Berdasarkan desakan nasional, kurikulum sekolah merupakan sekumpulan proses yang bersifat interaktif yang tidak dapat dilihat sebagai hitam –putih melainkan setiap interaksi harus dilihat sebagai satu bagian dari keseluruhan interaksi yang ada. Fleksibel-Adaptif, berarti pendidikan lebih suatu proses learning daripada teaching. Anggaran pendidikan 20% adalah sebuah perjuangan panjang bangsa Indonesia yang ingin bangkit  dari keterpurukan dan keterbelakangan dalam banyak hal. Pendidikan harus dapat memecahkan problematika sosial bangsa dan serangkian aktifitas menuju perubahan yang lebih baik.
              Pendidikan nasional  Indonesia yang berada dibawah Departemen Pendidikan Nasional dan Badan Standar Nasional pendidikan (BSNP) harus mengubah wujudnya jadi membumi. Artinya pendidikan yang selama ini dirasakan mahal dan kurang membantu orang kecil sudah dapat dicarikan solusinya. Sementara itu, kecenderungan global saat ini ditandai dengan munculnya nilai-nilai baru yang harus dilaksanakan karena sifatnya universal. Implikasi dari suatu budaya yang dianut ternyata mengakibatkan terjadinya pengaruh yang signifikan terhadap nilai-nilai budaya tersebut dalam pendidikan nasional. Secara langsung ataupun tidak langsung teryata ide atau gagasan yang berkembang dimana saja di belahan dunia ini mengakibatkan terjadinya perubahan nilai dan norma di belahan dunia lain. Adanya kecenderungan untuk memanfaatkan , ternyata membawa akibat yang besar terhadap perkembangan pendidikan . Adanya kecenderungan untuk memanfaatkan , ternyata membawa akibat yang besar terhadap perkembangan pendidikan. Oleh karena itu proses memanusiakan manusia terkadang tidak menjamin  adanya humanism, tetapi menimbulkan kecenderungan dehumanisme.
             Di samping itu adanya hidden curriculum, yaitu  kurikulum tersembunyi tetapi tersaji secara mudah  serta instant untuk dilihat dan dijadikan contoh sehingga dalam pendidikan kerap terjadi sub-ordinasi nilai-nilai kemanusian . Inilah seharusnya dihindari oleh system pendidikan. Pendidikan adalah program sterategi jangka panjang, karena itu kerja keras dan perbaikan serta peningkatan bidang pendidikan tidak bisa dijalankan secara reaktif, sambil lalu dan seenaknya , melainkan harus secara proaktif , intensif dan setrategis. Pendidikan memiliki arti yang besar dalam  meningkatkan kesadaran individu yang pada giliranya nanti individu-individu terdidik tersebut akan memberikan kontribusinya yang jelas terhadap komunitas masyarakat dan bangsanya. Globalisasi akan membawa perubahan yang mencakup hampir semua aspek kehidupan, termasuk kesetaraan jender , pluralism, dan demokrasi, hak asasi manusia, globalisasi, serta ketimpangan yang lain dalam makalah ini hanya akan menitikberatkan pada tiga unsur pembahasaan yang berkaitan dengan isu-isu pendidikan global yang saat ini berkembang. Setidaknya akan memperkaya pengetahuan kita tentang gender dan permasalahanya serta solusi terbaik menurut ajaran islam yang sesuai dengan tuntutan al-quran , karena sebelum gender itu mulai marak islam telah lebih dulu mengupasnya dalam tradisi yang berlaku saat itu, seperti pada masa bangsa Arab. Yang jelas memang telah terwujud masyarakat matriaki di dalam masyarakat Arab, kemudian berubah menjadi masyarakat patriaki, setidaknya pernah mengalami masa transi si dalam bentuk masyarakat bilateral, tempat laki-laki dan perempuan mempunyai peranan yang sama dalam keluarga dan masyarakat.
a)      Pengertian Jender
 Jender berasal dari bahas inggris , gender berarti “jenis kelamin”[2]. Dalam Webster’s New World Dictionary, jender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku “.[3] Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa jender adalah suatu konsep cultural yang berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat[4].H. T. Wilson dalam sex and gender mengartikan jender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan.
               Elaine Showalter mengartikan jender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari kontruksi sosial-budaya. Ia menekankanya sebagai konsep analisis (an analisis consept) yang dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu[5]. Meskipun kata gender belum termasuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Wanita dengan ejaan ‘Jender’. Jender diartikan sebagai “ interprestasi mental dan cultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Jender biasanya dipergunakan untuk menunjukan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan ”[6].
              Gender mainstreaming di sisi lain adalah upaya sistematis perbaikan relasi gender, dimana posisi perempuan diapresiasi dan dibantu karena faktor objektif meniscayakan demikian dalam kerangka perbaikan peradaban manusia modern dan kontemporer.[7]Pada masa orde lama, keberdayaan masyarakat mencapai puncaknya dari sisi politik , tetapi tidak di wilayah sosial kemasyarakatan dan ekonomi.
               Di masa Orde Baru , terjadi de-idiologisasi partai politik termasuk di dalamnya reorentasi pergerakan perempuan kearah budaya. Pada masa reformasi terjadi euporia lepas dari kunkungan dan tekanan Negara, desakan masyarakat Internasional  terhadap pentingnya jender meningkat, membuka kembali kesempatan lebih luas terhadap perempuan. Walaupun saat ini banyak perempuan yang telah banyak mendapatkan akses pendidika yang sama , nyatanya dalam percaturan politik belum memenuhi quota yang ada. Ketika telah banyak menyuarakan pembebasan untuk berpolitik perempuan masih menduduki tempat yang belum menjanjikan. Namun karena secara umum, keberdayaan masyarakat Indonesia vis a vis Negara lemah, maka keberdayaan perempuan juga lemah dan bahkan lebih lemah dari masyarakat kaum lelaki. Sejak kehadiran penjajahan belanda, perempuan nusantara menghadapi penderitaan baru (new suffering ), yaitu penderitaan akibat penjajahan .
            Peranan perempuan secara umum yang kurang menguntungkan saat itu, seperti mengerjakan tiga unsur pokok : kasur, dapur dan sumur, karena tekanan baru, karena penjajah menempatkan mereka pada posisi yang tidak lebih baik. Keadaan demikian diperparah dengan kebijakan tanam paksa Belanda dari tahun 1830 sampai 1901. Kemandirian dan keberdayaan masyarakat  Nusantara mendapat hantaman yang besar sekali dari kebijakan ini.
             Para pemilik tanah yang tadinya memiliki status mandiri dan berkuasa atas tanahnya, kemudian bergerak sebaliknya menjadi tidak mandiri dan penguasaan kekayaannya melemah bahkan hilang. Belanda memaksa mereka untuk bercocok tanaman komodite yang diinginkan mereka di tanah rakyat. Sementara hasilny diatur oleh belanda yang pengaturanya membuat masyarakat semakin lemah. Kebijakan ini muncul karena Belanda ingin mempertahankan dan meningkatkan pemenuhan kebutuhan bahan pokok dan rempah-rempah negerinya dan ikut bersaing dalam perdagangan dunia khususnya Eropa[8].
           Dalam situasi seperti ini, dapat dipastikan keadaan perempuan semakin buruk dari berbagai sisinya : politik, ekonomi, sosial dan pendidikan. Namun pada masa sulit tersebut, kebijakan belanda memberi pendidikan walaupun bagi kalangan terbatas, telah menumbuhkan kesadaraan baru, salah satunya kesadaran nasionalisme dan kesetaraan. Dalam konteks peranan perjuangan perempuan, hal demikian tercermin cukup jelas dalam perjuangan R.A. Kartini.
              Kartini dapat dipandang simbol perjuangan perempuan Indonesia. Kartini menyadari banyak yang salah dengan Nusantara saat itu, relasi laki-laki dan perempuan diantaranya . Kartini dianggap salah satu perempuan yang lantang dan kukuh memperjuangkan nasib perempuan. Harapanya untuk memajukan perempuan, lembaga pendidikan untuk perempuan dan pengorbananya demi mewujudkan cita-citanya adalah inspirasi bagi peerjuangan perempuan selanjutnya.  Pada periode ahir abad 19 dan awal abad 20, Nusantara sebenarnya mempunyai empat unsur modal budaya  : nilai pribumi, pan Islamisme Timur Tengah, modernitas dengan kapitalisme dan liberalism dan modernitas dengan sosialismenya.  Modal sosial ini mendorong berbagai gerakan masyarakat saat itu termasuk gerakan sosial perempuan setengah abad 20 pertama. Dalam sejarah kecenderungan demikian dikenal dengan gerakan kebangkitan sosial. Yang antara  lain terdiri dari R.A. Kartini (w. 1904), Cut Nyak Dhin (1850-1908), Cut Mutia ( 1870-1910) dan Maria Walanda Maramis (1872-1924)[9]. Perlu dicatat bahwa secara global awal abad 20 adalah awal kemunculan gender mainstreaming yang termasuk didalamnya gerakan emansipasi di Barat gerakan emansipasi ini mengarah pada pemberdayaan secara politik.  Memasuki era kemerdekaan tepatnya orde lama, gerakan perempuan juga memasuki era baru, yaitu mulai bergesernya gerakan perempuan dari gerakan sosial dan budaya kearah gerakan politik.
b). Perbedaan sex dan gender
                 Gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial-Budaya. Sementara sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi[10]. Menurut Showalter, Wacana jender mulai ramai di awal tahun 1977, ketika sekelompok feminis London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti Patriarchal atau sexist, tetapi menggantinya dengan wacana jender (gender discourse)[11]. Beban jender seseorang tergantung dari nilai-nilai budaya yang berkembang di dalam masyarakatnya. Dalam masyarakat partrilineal dan andosenteris,  sejak awal beban jender seseorang anak laki-laki lebih dominan disbanding anak perempuan.  Terciptanya model dan system kekerabatan didalam suatu masyarakat memerlukan waktu dan proses sejarah yang panjang, dan ada berbagai faktor kondisi obyektif geografis, seperti ekologi. Dalam masyarakat lintas budaya, pola penentuan beban gender (gender assignment) lebih sekededar pengenalan terhadap alat kelamin, tetapi menyangkut nilai-nilai fundamental yang telah membudaya di dalam masyarakat. Meskipun sifat-sifat dasar genetika manusia mempunyai persamaan dengan makhluk biologis lainya, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan, manusia mempunyai perkembangan lebih rumit dan kompleks, terutama dalam mendeteksi  dan mengontrol perkembangan fenotipe seksualnya[12].
c). Perpektif Teori Jender
                  Ada beberapa teori jender yang sangat berpengaruh dalam menjelaskan latar belakang perbedaan dan persamaan gender laki-laki dan perempuan. Teori ini di kemukakan oleh sigmuend freud (1856-1939), yang mengatakan perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan ditentukan oleh perkembangan seksualitas. Freud menjelaskan bahwa kepribadian seseorang tersusun di atas tiga struktur, yaitu id, ego, dan super ego .  Pertama Id, sebagai pembawaan sifat-sifat fisik –biologis seseorang sejak lahir, termasuk nafsu seksual dan insting yang cenderung terlalu agresif. Id bagaikan sumber energy memberikan kekuatan terhadap struktur berikutnya. Id bekerja diluar system rasional dan senantiasa memberikan dorongan untuk mencari kesenangan dan kepuasaan biologis. Ke-dua ego, bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakan keinginan agresif dari id. Ego berusaha mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial dan membantu seseorang bertahan hidup dalam dunia realitas.  Ke-tiga super ego berfungsi aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan.






                  [1] . Zamroni, Paradigma pendidikan masa depan. (Jakarta : Biograf Publishing, 2000). H. 90
               [2] . John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta : Gramedia, Cet. XII, 1986. H. 265. Sebenarnya arti ini kurang tepat, karena dengan demikian gender disamakan pengertianya dengan sex yang berarti jenis kelamin . Persoalannya karena kata jender termasuk kosa kata baru sehingga pengertianya belum di temukan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
                [3]. The apparent disparity between man and women in values and behavior). Lihat Victoria Neufeltd (ed.), Webster’s New World Dictionary, New York : Webster’s New World Clevendland, 1984, h. 561.
                 [4] . Helen Tierney (ed), Womenn’s Studies Encyclopedia, vol. I. New York : Green Wood Press, h. 153.
                [5]. Umar Nassaruddin, Argumen Kesetaraan Jender perspektif al-qur’an. Jakarta : Paramadina  2001, h. 34. Cet . II.
              [6]. Kantor Menteri Negara Urusan Peranaan  Wanita , Buku III : Pengantar Teknik Analisa Jender, 1992, 1992, h. 3
            [7]. Kusmana JM. Muslimin , Paradigma Baru Pendidikan Restropeksi dan Proyeksi Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : PIC UIN 2008 . Cet I. h. 213
               [8]. Kusmana JM. Muslimin, Paradigma Baru Pendidikan Restropeksi dan Proyeksi Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia,
             [9]. Kusmana JM. Muslimin, Paradigma Baru Pendidikan : Restropeksi Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : PIC UIN 2008, Cet. I. h. 218
            [10]. Istilah sex berarti jenis kelamin lebih banyak berkosentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainya, sementara gender lebih banyak berkosentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainya, Jhon M. Echols dan Hasan Shadily , Kamus Inggris Indonesia,  Jakarta : Gramedia, Cet. X. H. 265.
            [11]. Lihat, Elaine Showalter, (ed.), Speking of gender, New York & London : Routledge, 1989. H. 5
              [12]. Fenotipe seksual (sexual fhenotype) adalah ekspresi genetika yang merujuk kepada sifat organism biologis, misalnya struktur, fisiologi, biokimia, perilaku, atau keseluruhan unsure-unsur tersebut. Kemudian fenotipe seksual itu sendiri berinteraksi antara faktor genetika dan lingkungan. (Lihat, Linda R. Maxon & Charles H. Daugherty, Genetics a Human Perspektive, Lowa : W.M.C. Brown Publisher, 1985, h. 136

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar